Navigation Menu

Aku atau Dia Yang Lebih Baik?

Untuk Sama-sama Kita Renungkan
“AKU ATAU DIA YANG LEBIH SEMPURNA?”

Oleh : Usman Jayadi

Sebagai prolog dari tulisan ini, Allah SWT melukiskan sebuah pesan Lukman Al Hakim kepada Anaknya di dalam Al Qur’an,“Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang angkuh & menyombongkan diri.” (Al Qur’an Surah Luqman ayat 18)

BERBICARA masalah keangkuhan, dalam sebuah hadits qudsiy, Rasulullah dalam sabdanya bercerita, pada suatu hari, Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa as, "Hai Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurut kamu lebih baik daripada dia." Kemudian, Nabi Musa as. pun pergi ke mana-mana; ke jalanan, pasar, dan tempat-tempat ibadat. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek dari Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang lebih baik dari dirinya.

Karena gagal menemukan orang itu, Nabi Musa pun masuk ke tengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata selalu ada hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa. Seperti kita ketahui, burung Merak, misalnya, bulunya jauh lebih bagus dari bulu manusia. Sampai akhirnya Nabi Musa melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir, "Mungkin sebaiknya aku pergi membawa dia." Ia pun lalu mengikat leher anjing itu dengan tali. Namun ketika sampai ke suatu tempat, Nabi Musa melepaskan anjing itu.

Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan Allah SWT, Tuhan bertanya, "Ya Musa, mana orang yang Aku perintahkan kepadamu untuk kau bawa?" Nabi Musa menjawab, "Tuhanku, aku tidak menemukan seseorang pun yang aku lebih baik darinya." Tuhan lalu berfirman, "Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik darinya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar kenabian."

Kata ana khairun minhu atau "Aku lebih baik dari dia" pertama kali diucapkan oleh Iblis untuk menunjukkan ketakaburannya. Tuhan menyuruhnya untuk sujud kepada Adam as tapi Iblis tidak mau. Ia beralasan, "Aku lebih baik dari dia. Kau ciptakan aku dari api dan Kau ciptakan dia dari tanah." Takabur yang dilakukan oleh Iblis pertama kali itu adalah takabur karena nasab, takabur karena keturunan.

Menurut Imam Al-Ghazali, di antara beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi takabur dan berfikir, "Aku lebih baik dari dia," adalah nasab atau keturunan. Iblis adalah tokoh takabur karena nasab yang paling awal. Kebanggaan atau kesombongan karena nasab ini pernah menjadi satu sistem dalam masyarakat Feodalisme atau sistem kemasyarakatan yang membagi masyarakat berdasarkan keturunannya. Sebagian masyarakat disebut berdarah biru dan sebagian lagi berdarah merah.

Sebuah buku yang dengan secara terperinci mengkritik sebagian sayyid atau keturunan Rasulullah saw yang merasa bahwa mereka lebih utama dari orang yang bukan sayyid. Sebagian sayyid itu berpendapat bahwa jika ada orang bukan sayyid yang beramal saleh sebanyak-banyaknya, derajatnya akan tetap lebih rendah dari seorang sayyid yang beramal maksiat. Menurut penulis buku tersebut, seorang sayyid yang berpendapat seperti itu pastilah seorang sayyid yang ahmaq atau tolol. Dalam buku itu, ia memberikan contoh sayyid yang berpikiran seperti itu sebagai orang yang takabur karena nasabnya. Ternyata, penulis buku itu pun adalah seorang sayyid. Namanya Al-Sayyid Abdul Husain Asghai.

Penulis itu mengingatkan kita semua kepada Imam Ali Zainal Abidin as. Ia pernah menangis terisak-isak di hadapan Baitullah. Kemudian, Thawus Al-Yamani mendekatinya dan bertanya, "Wahai Imam, mengapa engkau harus beribadat seperti ini? Bukankah kakekmu Rasulullah saw dan ibumu Fathimah as?" Lalu Imam Ali Zainal Abidin as dengan marah menjawab, "Jangan sebut-sebut di hadapanku ibuku dan kakekku, karena Allah SWT akan memberikan surga kepada siapa saja yang taat kepada-Nya, walaupun ia adalah seorang budak dari Afrika. Dan Allah akan memasukkan ke neraka siapa saja yang maksiat kepada-Nya walaupun ia adalah seorang sayyid dari bangsa Quraisy."

Berbangga sebagai keturunan Rasulullah saw saja adalah suatu perbuatan takabur, apalagi berbangga sebagai keturunan bukan Rasulullah saw.

Kehormatan dalam Islam tidak ditegakkan berdasarkan nasab atau keturunan. Allah SWT berfirman, "Innâ akramakum ‘indallâhi atqâkum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa." (QS. Al-Hujrat 13 ). Konon, pada suatu hari, seseorang datang kepada Rasulullah saw dengan membanggakan nasabnya. Di kalangan masyarakat Arab waktu itu, kebanggaan suatu nasab didasarkan pada jumlah jasa yang dilakukan nasab tersebut. Karena itu, mereka sering menyebut-nyebut jasa orang tua mereka. Orang itu memperkenalkan dirinya dengan menyebut silsilah orang tuanya sampai keturunan kesembilan. Rasulullah saw hanya menjawab pendek, "Wa anta ‘âsyiruhum fin nâr. Dan engkau, keturunan yang kesepuluh, di neraka." Ia masuk neraka karena ketakaburannya.

Ketika berhadapan dengan orang yang takabur karena nasabnya, yang membanggakan kehebatan orang tuanya, Sayidina Ali berkata,"Ucapan kamu benar. Tapi alangkah jeleknya yang dilahirkan oleh orang tuamu."

Imam Al-Ghazali membagi takabur menjadi dua bagian.
Pertama, takabur dalam urusan agama dan kedua, takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan agama dibagi lagi menjadi dua; takabur karena ilmu dan takabur karena amal. Menurut Al-Ghazali, yang banyak takabur karena ilmu adalah para ilmuwan, filusuf, dan ulama. Apa tanda-tanda orang yang takabur karena ilmunya? Ia tidak mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bodoh darinya. Ia merasa dirinya paling pintar dan tidak memerlukan bantuan orang lain.

Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional Intelligence, menceritakan kisah dua orang yang lulus bersamaan dari perguruan tinggi. Satu orang di antaranya luar biasa pintar dan lulus dengan nilai tertinggi sementara seorang yang lain lulus dengan nilai pas-pasan. Dua tahun kemudian, diselidiki nasib kedua orang itu. Orang yang pintar itu ternyata menganggur sementara orang yang tidak pintar telah menjadi manajer di sebuah perusahaan. Setelah diselidiki, ternyata orang pintar itu tidak tahan bekerja di satu tempat, karena dia tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Ia merasa dirinya pintar sehingga tidak memerlukan bantuan orang lain.

Takabur yang kedua di dalam urusan agama adalah takabur karena amal. Jika seseorang banyak beramal, ia bisa menjadi sombong. Dalam sebuah hadis diriwayatkan seseorang yang datang ke majelis Nabi. Orang itu dipuji para sahabat karena kebagusan ibadatnya. Tapi Nabi mengatakan, "Aku melihat bekas tamparan setan di wajahnya." Nabi kemudian menyuruh sahabat membunuh orang itu. Orang itu merasa amal dirinya paling baik di antara orang lain. Di waktu lain, Rasulullah saw bersabda, "Jika ada seseorang yang berkata, ‘Manusia ini semuanya sudah rusak,’(dan ia merasa bahwa hanya dirinya yang tidak rusak) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya dia yang paling rusak."

Ada orang yang merasa amalnya sudah bagus sehingga dia merendahkan orang lain. Ada juga orang yang merasa dirinya amat saleh dan segera menganggap rendah orang lain yang tidak salat berjamaah di masjid seperti dirinya. Ia pun mengecam orang lain yang salatnya dijamak. Orang-orang seperti itu termasuk orang yang takabur karena amalnya.

Sayidina Ali mengajarkan kepada para pengikutnya, "Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda, berpikirlah dalam hatimu: Pasti dosanya lebih sedikit dari dosaku. Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah dalam hatimu: Pasti amalnya lebih banyak dari amalku." Setiap orang pasti ada kelebihannya. Kita juga punya kelebihan, tetapi hal itu tidak menyebabkan kita menjadi lebih mulia daripada orang lain. Begitu kita merasa diri kita lebih mulia dari orang lain dan ingin diperlakukan sebagai orang mulia secara diskriminatif, kita sudah jatuh kepada takabur. Takaburnya bisa karena ilmu atau karena amal.

Takabur bagian kedua menurut Al-Ghazali adalah takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan dunia disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena nasab atau keturunan, seperti telah saya jelaskan di atas. Kedua, karena harta kekayaan. Ketiga, karena kekuasaan. Keempat, karena kecantikan. Kelima, karena banyaknya anak buah dan pengikut. Penyakit yang terakhir ini biasanya diderita oleh para ulama.

Rasulullah saw bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat takabur walaupun hanya sebesar biji sawi." Kita dapat mengukur hati kita, apakah terdapat sebutir takabur atau tidak, dengan menjawab beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut: Ketika kita masuk ke dalam sebuah majelis dan melihat kawan kita yang setara dengan kita, duduk di tempat yang lebih mulia, sementara kita duduk di tempat yang lebih rendah, apakah ada perasaan berat dalam diri kita? Ketika Kita akan memilih menantu dan memperhatikan keturunan calon menantu itu, lalu ternyata keturunannya tidak sebanding dengan Kita, apakah Kita merasa berat menerimanya? Apakah Kita merasa berat menerima nasihat dari orang yang lebih rendah daripada Kita? Apakah Kita merasa berat untuk memakai pakaian yang jelek ketika menghadiri pengajian? Jika Kita menjawab "ya" untuk salah satu dari pertanyaan di atas, ketahuilah, Kita sudah jatuh ke dalam takabur.

Menutup tulisan ini, saya akhiri dengan dua buah hadis. Pertama, Rasulullah saw bersabda, "Pastilah orang yang takabur itu punya cacat dalam dirinya yang ia sembunyikan." Menurut Psikologi mutakhir, orang-orang yang arogan atau sombong di dunia ini sebetulnya adalah orang yang menderita cacat tertentu yang tidak kita ketahui dan mereka berusaha menutupinya. Kita dapat mengobati perasaan takabur dengan istighfar dan bersikap tawadhu. Tidak ada obat bagi takabur selain bersikap rendah hati. Kedua, Rasulullah saw bersabda, "Jika kamu temukan di antara umatku orang yang bersikap tawadhu, maka hendaklah kamu bersikap lebih tawadhu lagi kepada mereka.

Mudah-mudahan Allah SWT menjauhkan kita semua dari sifat dan bahaya takabbur dalam kehidupan kita yang sementara ini. Dan mudah-mudahan kita semua menjadi hamba-hamba Allah yang selalu mengarungi kehidupan ini dengan sikap tawaddhu karena Allah, sehingga curahan rahmat dan hidayah-Nya senantiasa selalu menghiasi kebahagiaan kita baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin ya Rabbal’alamiin.
Semoga Bermanfaat!!!

(Lombok Post, 2012)

Anakku Akan Sekolah Ke Mana?

Sebuah Celoteh untuk Calon Peserta Didik Baru SMP/SMA Kota Mataram
Anakku Akan Sekolah Ke Mana?
Oleh : Usman Jayadi

“Tujuan kita dalam hidup seharusnya saling melihat satu dan lainnya secara menyeluruh,bukan melalui satu dan lainnya.” Demikian yang ditulis seorang ilmuan yang bernama Zig Ziglar dalam bukunya yang terjual jutaan copy di seluruh dunia dengan judul See You at The Top. Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi kita selaku orang tua, bahwa Kehidupan anak-anak kita akan berkualitas apabila mereka diajarkan ilmu menghargai. Mungkin melalui PPDB inilah paling tidak kita mnegajarkan anak-anak kita untuk menghargai betapa prestasi yang semula kita anggap tidak baik, ternyata hasilnya pun sangat luar biasa baiknya.

Hari ini, satu masalah besar akan menjadi paradoks bagi mereka yang menginginkan anak-anaknya menjadi manusia bermanfaat yang akan membuat mereka tersenyum bahagia, penuh dengan kebanggaan, dan penuh dengan harapan mulia tanpa keraguan akan prestasi putra-putrinya.

Mencari sekolah bak mencari buah-buahan di pasar buah. Di tempat ini bagus, di tempat itu bagus. Di tempat ini lebih besar, di sana juga sama besar. Di sini mahal, di sana juga demikian. Lantas, apa yang dapat dilakukan??? Mungkin, membeli buah itu dengan keterpaksaan atau malah mengurungkan niat untuk membelinya. Kalau menurut saya, ambil saja buah yang kecil kalau harganya lebih murah. Rasanya juga kan rasa buah…!!!

Secuil harapan memang merupakan langkah awal untuk menggapai apa yang diinginkan. Terkadang, lebih baik tidak memilih daripada harus mempertahankan egoisme dengan satu tujuan kesombongan. Mungkin, bagi orang yang mampu berapa pun harga buah tersebut akan dibelinya. Lantas, bagaimana dengan mereka yang hanya ingin saja???

Beberapa masalah bermunculan. Tengok saja mulai hari ini! Pasti beberapa masalah akan ada meskipun seribu sumpah berserakan. Sekolah ini gratis tanpa pungutan, tapi belajarnya harus dengan uang yang nyata dan penuh dengan kwitansi-kwitansi kemaksiatan. Orang yang kaya raya sudah berada di urutan terdepan, sedangkan si miskin papa hanya ikut-ikutan nge-online meskipun tujuan yang diharapkan sama dengan mereka yang punya uang.

Orang tua menjadi sasaran sang anak. “Pak, Bu! Saya harus sekolah di SMP/SMA ini” padahal nilai jeblok, dan terpaksa harus melewati BL (Belakang Lewat). Lewat belakang ya uangnya!!! Yang penting anaknya dapat menjadi sumber gengsi, akhirnya berjuta-juta pun uang  harus keluar meskipun melalui hutang besar. “Sekolah dekat rumah kan banyak, Nak!” Tanya sang orang tua. “Ndak mau, harus di sekolah Kota, pokoknya” jawab sang anak.

Luar biasa memang, yang salah siapa??? Dari sekolah elit, nilainya kok jeblok. Yang dari sekolah pinggiran dapat langsung masuk setelah online dibuka. sebenarnya ini merupakan inspirasi bagi kita. Tidak ada sekolah yang tidak belajar, tidak ada sekolah yang tidak bagus, tidak ada sekolah yang tidak punya kepala sekolah dan guru, tidak ada sekolah yang tidak ujian. Lantas, apa bedanya ya sekolah kota dengan sekolah pinggiran??? Paling bedanya hanya banyakan keluarin uang saja, bukan??? Kalau masalah nilai, nilai UN-nya sekolah pinggiran juga tidak jauh beda dengan sekolah di perkotaan. Kualitas hasil didikan sekolah pinggiran juga mampu bersaing dengan alumni sekolah-sekolah di perkotaan. Tinggal kitanya saja sebenarnya sebagai orang tua yang harus berani mengambil sikap untuk memacu anak-anak kita dengan motivasi berharga supaya mereka menjadi buah-buahan yang tidak rusak dan harganya pun mahal.

Sistem Online yang diberlakukan Dinas Dikpora Kota Mataram dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) empat tahun terakhir ini merupakan langkah awal ketransparanan kualitas sekolah di perkotaan dengan sekolah pinggiran. Lihat saja rekapnya nanti, kebanyakan yang lulus di sekolah-sekolah favorit kebanyakan sekolah-sekolah yang ada di pinggiran.

Paling tidak, tulisan ini dapat menginspirasi kita semua bahwa kualitas generasi masa depan bukan saja berasal dari sekolah perkotaan, melainkan bagaimana generasi masa depan kita memberanikan diri bersaing dengan sekolah-sekolah elit masa depan. Ini memang tidak terlepas dari bagaimana sekolah-sekolah baik di perkotaan maupun di pinggiran mengeksplorasi visi dan misi yang menjadi harapan dan tujuan sekolahnya.

Marilah kita berpikir sejenak, semua sekolah di Kota Mataram rata-rata bagus semua. Oleh karena itu, kebijakan yang diambil Dinas Dikopora Kota Mataram pada system online tahun ini adalah calon peserta didik baru hanya diperbolehkan memilih satu sekolah lanjutan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Paling tidak kebijakan ini mampu memberikan toleransi kepada masyarakat untuk memilih sekolah-sekolah terdekat supaya para orang tua dapat mengontrol sekolah tempat putra-putrinya melanjutkan nantinya.

Secuil harapan dan semoga menjadi kenyataan, PPDB tahun ini jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Dinas Dikpora Kota Mataram harus berani mengambil tindakan tegas, kalau memang peserta didik nilainya tidak dapat diterima di sekolah tujuan, lebih baik langsung diarahkan menuju ke sekolah-sekolah swasta yang kekurangan siswa. Paling tidak ini sebagai bukti bahwa pemerintah juga harus memerhatikan sekolah-sekolah swasta yang kualitasnya juga tidak jauh dengan sekolah-sekolah negeri di daerah kita.


Akhirnya, selamat mengikuti dan menyukseskan proses PPDB tahun ini semoga dapat berjalan dengan aman, tetap pada ketransparanan, dan penuh dengan kejujuran prestasi. Kepada semua orang tua hendaknya PPDB tahun ini menjadi bahan renungan bahwa sekolah-sekolah yang ada di daerah kita kualitas dan kuantitasnya hampir sama. Orang tua juga harus menyadari kelemahan putra-putrinya, memacu mereka untuk terus bersekolah meskipun di sekolah yang mungkin kalau menurut mereka tidak baik. Bukan menyalahkan dan memberanikan diri memaksakan setiap keraguan yang ada dengan nilai yang pas-pasan. Untuk anak-anakku sekalian, sempurnakan ikhtiar kalian untuk menunjukkan kualitas dan kesempurnaan diri kalian meskipun di sekolah lanjutan yang dianggap tidak berprestasi. Tugas dan kewajiban kalian-lah untuk mempersembahkan prestasi terbaik untuk sekolahmu nanti!!! Semoga sukses!!!

(Lombok Post, 2012)

Isra' Wal Mi'raj

Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Saw.
“Tour Spektakular Merenungi Kekuasaan Tuhan”
Oleh : Usman Jayadi

Terlintas indah bayangmu dalam renungan,
Penuh dengan senyum, penuh dengan keriangan.
Bertemu dengan Tuhan, karena engkau adalah kekasih mulia-Nya.
Sebagai umatmu saja, kami sangat bangga…
Apalagi dapat bertemu dalam lindap bayangmu yang nyata.
Rindu kami padamu, duhai yang terkasih…
Meskipun wajahmu tak tersketsakan dengan kenyataan yang abadi.
Tuhan, sampaikan salam kami,
Kepada hamba-Mu yang mulia itu… Rasulullah Sang Penjelajah Kekuasaan-Mu.
------------------------------

Dari Makkah ke Bayt Al-Maqdis, kemudian naik ke Sidrat Al-Muntaha, bahkan melampauinya, serta kembali lagi ke Makkah dalam waktu yang sangat singkat, merupakan tantangan terbesar sesudah Al-Quran diwahyukan Allah kepada Rasulullah sang manusia pilihan. Perjalanan ini membuktikan bahwa pengetahuan dan ketentuan Sang Illahi mencakup, bahkan merevolusi segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa ruang dan waktu.

Kebanyakan kaum intelek keberatan, kemudian menggugat: Tidaklah mungkin kecepatan, yang bahkan melebihi kecepatan cahaya  yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini, dapat terjadi? Tidaklah mungkin lalu lintas yang dilalui oleh Rasulullah SAW tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya gravitasi bumi? Ini tidak mungkin terjadi, karena hal tersebut tidak sesuai dengan sunatullah, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Demikian kilah mereka yang sama sekali tidak mengimani wahyu Illahi Rabbi.

Patut kita sadari bersama, bahwa pendekatan yang paling tepat untuk memahami peristiwa agung dan spektakular tersebut adalah dengan contextual iman yang seyakin-yakinnya. seperti yang dilakukan oleh Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq, dalam ungkapannya: “Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya.” Oleh sebab itu, uraian ini berusaha untuk memahami peristiwa tersebut melalui spekulasi iman untuk mempercayai kebenaran tersebut berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Allah dalam Al-Quranul Kariim.

Al-Quran adalah masa depan ruhani manusia demi mewujudkan keutuhan manusia itu sendiri sebagai hamba Allah. Deskripsi Al-Quran tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu sketsa untuk menskemakan ruhani manusia dengan keimanan. Hal ini terbukti jelas baik dalam bagian-bagiannya yang terbesar maupun dalam ayat-ayatnya yang terinci.
Tujuh bagian juz berharga dalam Al-Quran membahas pertumbuhan jiwa manusia sebagai pribadi-pribadi yang secara kolektif membentuk umat terbaik. Kemudian, bagian kedelapan sampai keempat belas, Al-Quran menekankan fundamental manusia seutuhnya serta kepribadian masyarakat dan pemerintahannya, dan gagasan pokok mulai bagian kelima belas mencapai akhir Al Qur’an menggambarkan sosok pribadi yang telah mencapai tingkat tertinggi dari manusia seutuhnya, yakni al-insan al-kamil. Oleh karena itu, Histori Isra’ dan Mi’raj merupakan awal dari bagian tersebut hingga bagian kedua puluh satu, di mana kisah para rasul diuraikan dari sisi pandangan sebuah perjalanan panjang umat manusia di dunia. Kemudian, masalah perkembangan ruhani manusia secara individualitas diuraikan lebih detail sampai bagian ketiga puluh dengan pemaparan relasi manusia dengan kehidupan masyarakat seutuhnya.

Jika menengok cakupan Al Kalam dengan sederhana, para mufassirin, sebagaimana ilmuwan-ilmuwan berbagai disiplin ilmu keduniaan, menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki pendahuluan yang mengantar atau menyebabkannya. Imam Al-Suyuthi berpendapat bahwa pengantar satu uraian dalam Al-Quran adalah uraian yang terdapat dalam surat sebelumnya. Sedangkan inti uraian satu surat dipahami dari nama surat tersebut. Dengan demikian, maka pengantar uraian peristiwa Isra’ dalam Al-Quran adalah surat yang dinamai Tuhan dengan sebutan Al-Nahl, yang berarti lebah. Mengapa? Karena makhluk ini memiliki banyak keajaiban. Keajaibannya bukan terlihat dari jenisnya (jantan dan betina), tetapi juga jenis yang bukan jantan dan bukan betina. Keajaibannya juga tidak hanya terlihat pada sarang-sarangnya yang tersusun dalam bentuk lubang-lubang yang sama bersegi enam dan diselubungi oleh selaput yang sangat halus menghalangi udara atau bakteri menyusup ke dalamnya, juga tidak hanya terletak pada top mujarab madu yang dihasilkannya, yang menjadi makanan dan penyembuh banyak penyakit. Keajaiban binatang mungil ini mencakup kesemuanya, dan mencakup pula sistem kehidupan yang penuh disiplin dan berdedikasi tinggi di bawah pimpinan seekor “ratu”. Lebah yang berstatus ratu ini pun memiliki keajaiban dan keistimewaan. Misalnya, bahwa sang ratu ini, karena rasa “malu” yang dimiliki dan dipeliharanya, telah menjadikannya enggan untuk mengadakan hubungan seksual dengan salah satu anggota masyarakatnya yang jumlahnya dapat mencapai sekitar tiga puluh ribu ekor. Di samping itu, keajaiban lebah juga tampak pada bentuk komunikasi dan cara mereka berbahasa, yang dalam hal ini telah dipelajari secara mendalam oleh seorang ilmuwan Austria, Karl Van Fritch.

Lebah dipilih Tuhan untuk menggambarkan keajaiban ciptaan-Nya menjadi pengantar keajaiban tindakan-Nya dalam luar biasanya Isra’ dan Mi’raj. Lebah juga dipilih sebagai pengantar bagi bagian yang menjelaskan manusia seutuhnya. Karena manusia seutuhnya “manusia mukmin” menurut Rasulallah adalah “bagaikan lebah, tidak makan kecuali yang baik dan indah, seperti kembang yang semerbak; tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang baik dan berguna, seperti madu yang dihasilkan lebah itu.” (Al Hadits)

Dalam cakupan yang lebih kecil lagi, kita tengok bersama ayat pertama atau muqaddimah surat An-Nahl tersebut. Di sini Allah berfirman: “Telah datang ketetapan Allah (Hari Kiamat). Oleh sebab itu janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya.”

Dunia memang belum kiamat. Namun, mengapa Allah mengatakan kiamat telah datang? Al-Quran menyatakan “telah datang ketetapan Allah,” mengapa dinyatakan-Nya juga “Jangan meminta agar disegerakan datangnya?” Hal tersebut memberi isyarat sekaligus mukaddimah bahwa Tuhan tidak mengenal waktu untuk mewujudkan sesuatu. Hari ini, esok, juga kemarin, adalah perhitungan manusia, perhitungan makhluk. Tuhan sama sekali tidak terikat matematika manusia berotak kiri karena Allah, Tuhan Yang Maha Menguasai Waktu. Dia tidak membutuhkan batasan untuk mewujudkan sesuatu. Dan hal ini ditegaskan-Nya dalam pengantar Surah An-Nahl dengan kalimat: “Maka perkataan Kami kepada sesuatu, apabila Kami menghendakinya, Kami hanya menyatakan kepadanya “kun” (jadilah), maka jadilah ia.” (QS 16:40).

Terdapat dua hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain. Benda padat membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan suara. Suara pun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para ilmuwan, filosof, dan agamawan untuk berkesimpulan bahwa, pada akhirnya terdapat sesuatu yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai sasaran apa pun yang dikehendaki-Nya. Sesuatu itulah yang kita namakan Allah SWT, Tuhan Yang Mahaesa. Kedua, segala sesuatu menurut para ilmuwan, juga menurut Al-Quran, mempunyai sebab-sebab. Tetapi, apakah sebab-sebab tersebut yang mewujudkan sesuatu? Menurut ilmuwan, tidak. Demikian juga menurut Al-Quran. Apa yang diketahui oleh ilmuwan secara pasti hanyalah sebab yang mendahului atau beriringan dengan terjadinya sesuatu.

Dengan demikian, yang dinamakan sunatullah tiada lain kecuali “a summary o f statistical averages” (pendapat dari sekumpulan data). Sehingga, sebagaimana dinyatakan oleh Pierce, ahli ilmu alam, apa yang kita namakan “kebetulan” dewasa ini, adalah mungkin merupakan suatu proses terjadinya suatu kebiasaan atau hukum alam. Bahkan Einstein, lebih tegas lagi, menyatakan bahwa semua yang terjadi diwujudkan oleh “superior reasoning power” (kekuatan nalar yang superior). Atau, menurut bahasa Al-Quran, “Al-’Aziz Al-’Alim”, Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Inilah yang ditegaskan oleh Tuhan dalam surat pengantar peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu dengan firman-Nya: “Kepada Allah saja tunduk segala apa yang di langit dan di bumi, termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (QS 16:49-50).

Sebelum Al-Quran mengakhiri pengantarnya tentang peristiwa ini, dan sebelum diungkapnya peristiwa ini, digambarkannya bagaimana kelak orang-orang yang tidak mempercayainya dan bagaimana pula sikap yang harus diambilnya. Allah berfirman: “Bersabarlah wahai Muhammad; tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap (keingkaran) mereka. Jangan pula kamu bersempit dada terhadap apa-apa yang mereka tipudayakan. Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebajikan.” (QS 16:127-128). Inilah pengantar Al-Quran yang disampaikan sebelum diceritakannya peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Agaknya, yang lebih wajar untuk dipertanyakan bukannya bagaimana Isra’ dan Mi ‘raj terjadi, tetapi mengapa Isra’ dan Mi ‘raj? Seperti yang telah dikemukakan pada awal uraian, Al-Quran, pada bagian kedelapan sampai bagian kelima belas, menguraikan dan menekankan pentingnya pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat beserta pemerintahannya. Ini mencapai akhir pada bagian kelima belas atau surat ketujuh belas, yang tergambar pada pribadi hamba Allah yang di-isra’-kan serta nilai-nilai yang diterapkannya dalam masyarakat beliau. Karena itu, dalam kelompok ayat yang menceritakan peristiwa ini (dalam surat Al-Isra’), ditemukan sekian banyak petunjuk untuk membina diri dan membangun masyarakat.

Pertama, ditemukan petunjuk untuk melaksanakan shalat lima waktu (pada ayat 78). Dan shalat ini pulalah yang merupakan inti dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, karena shalat pada hakikatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yang diharapkan oleh manusia sesungguhnya. Shalat dibutuhkan oleh pikiran dan akal, karena shalat merupakan perwujudan riil relasi hamba dengan Tuhan-nya  yang menggambarkan pengetahuan tentang tata kerja semesta ini, yang berjalan di bawah kesatuan system Illahi. Shalat juga menggambarkan petunjuk kemahaluarbiasaan semesta yang total, yang semuanya diawasi dan dikendalikan oleh kekuatan Yang Mahadahsyat, Tuhan Yang Mahaesa. Dan bila demikian, maka tidaklah keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula ia melaksanakan shalatnya.

Shalat juga merupakan kebutuhan jiwa. Karena, tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak pernah mengharap atau merasa cemas. Hingga, pada akhirnya, sadar atau tidak, ia menyampaikan harapan dan keluhannya kepada Dia Yang Maha Bijaksana. Hal ini tentunya menjadi bukti tanda kebejatan akhlak dan kerendahan esetetika kita kepada-Nya yang datang menghadapkan diri hanya pada saat didesak oleh kebutuhan-kebutuhan pribadi yang tidak masuk akal.

Shalat dibutuhkan oleh masyarakat manusia, karena shalat, dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan. Masyarakat Romawi Kuno mencapai puncak keahlian dalam bidang arsitektur, yang hingga kini tetap mengagumkan para ahli, juga karena adanya dorongan tersebut. Karena itu, Alexis Carrel menyatakan: “Apabila pengabdian, shalat, dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, maka hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut.” Untuk diingat, Alexis Carrel bukanlah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Ia adalah seorang dokter yang telah dua kali menerima hadiah Nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja serta pencangkokannya. menurut Larouse Dictionary, Alexis Carrel dinyatakan sebagai satu pribadi yang pemikiran-pemikirannya secara mendasar akan berpengaruh pada penghujung abad XX ini.

Statement beberapa ilmuwan ini sejalan dengan penegasan Al-Quran yang ditemukan dalam pengantar uraiannya tentang peristiwa Isra’ dalam surat Al-Nahl ayat 26. Di sana tersketsa pembangkangan satu kelompok masyarakat terhadap petunjuk Tuhan dan nasib mereka menurut ayat tersebut: “Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari fondasinya, lalu atap bangunan itu menimpa mereka dari atas; dan datanglah siksaan kepada mereka dari arah yang mereka tidak duga.” (QS 16:26).

Petunjuk-petunjuk lain yang ditemukan dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat adil dan makmur, antara lain adalah: “Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mereka menaati Allah untuk hidup dalam kesederhanaan), tetapi mereka durhaka; maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadap mereka ketetapan Kami dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS 17:16).

Ditekankan dalam surat ini bahwa “Sesungguhnya orang yang hidup berlebihan adalah saudara-saudara setan” (QS 17:27). Dan karenanya, hendaklah setiap kita hidup dalam kesederhanaan dan keseimbangan: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu (pada lehermu dan sebaliknya), jangan pula kamu terlalu mengulurkannya, agar kamu tidak menjadi tercela dan menyesal (QS 17:29).

Kesederhanaan yang dituntut bukan hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam bidang amaliyah dan ibadah. Kesederhanaan dalam ibadah shalat misalnya, tidak hanya tergambar dari adanya pengurangan jumlah shalat dari lima puluh menjadi lima kali sehari, tetapi juga tergambar dalam petunjuk yang ditemukan pada surat Al-Isra’, yakni berkenaan dengan suara ketika dilaksanakan shalat: “Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya.” (QS 17: 110). Jalan tengah di antara keduanya ini berguna untuk dapat mencapai konsentrasi, pemahaman bacaan dan kekhusyukan. Di saat yang sama, shalat yang dilaksanakan dengan “jalan tengah” itu tidak mengakibatkan gangguan atau mengundang gangguan, baik gangguan tersebut kepada saudara sesama Muslim atau non-Muslim, yang mungkin sedang belajar, berzikir, sedang sakit, ataupun bayi-bayi yang sedang tidur nyenyak. Karena dalam kandungan ayat yang menceritakan peristiwa ini, Tuhan menekankan pentingnya persatuan masyarakat yang menyeluruh dalam kesatuan yang utuh. Dengan demikian, masing-masing orang dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan dan bidangnya, tanpa mempersoalkan agama, keyakinan, dan keimanan orang lain. Ini sesuai dengan firman Allah: “Katakanlah wahai Muhammad, “Hendaklah tiap-tiap orang berkarya menurut bidang dan kemampuannya masing-masing.” Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS 17:84).

Akhirnya, sebelum uraianyang terambil dari beragam referensi ini saya sudahi, marilah kita renungkan ayat terakhir Surah Al-Isra’ atau Baniy Israil yang menceritakan peristiwa spektakular dan controversial ini: Katakanlah wahai Muhammad: “Percayalah kamu atau tidak usah percaya (keduanya sama bagi Tuhan).” Tetapi sesungguhnya mereka yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila disampaikan kepada mereka, maka mereka menyungkur atas muka mereka, sambil bersujud.” (QS 17: 107).

Semoga kita semua mampu memetik hikmah dari perjalanan luar biasa ini sehingga dapatlah kiranya kita hidup dalam nuansa penuh perenungan akan kehebatan Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Amin ya Rabbal ‘alamin…!!! Semoga bermanfaaat.

Referensi:
-        ISRA’ MI’RAJ oleh Ibnu Hajar al-Asqalani & lmam as-Suyuthi;
-        Kekasih Allah Muhammad; Kedalaman Spiritual & Arti Batiniah Berbagai Episode Kehidupannya oleh Seyyed Hossein Nasr;
-        Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah Saw oleh Fuad Abdurrahman;
-        Air Mata Rasulullah oleh Fuad Kauma;

-        Dll.

(Lombok Post, 2012)

Opini Lombok Post 26/05/2012

PENGUMUMAN UN SMA:
ANTARA MIMPI DAN FAKTA DARI SEBUAH PENGAKUAN
Oleh : Usman Jayadi

Sekuntum rindu untuk masa lalu, ketika aku pun seperti kalian.
Menunggu antara kepastian dan ketidakpastian mimpi-mimpi penuh senyuman.
Hari ini berjuta-juta canda dalam bahagia,
Hari ini beribu-ribu tangis dan literan linangan air mata.
Itulah atmosfer dari kekuasaan-Nya yang jangan sampai terlupakan.
Semuanya sudah kodrat untuk memilih dan memilah di antara yang terbaik dan tidak terbaik dari apa yang seharusnya dipilih dan dipilah.
Meraih kemenangan memang mudah, namun mempertahankan kemenangan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari mimpi-mimpi penuh harapan
Dan, fakta dari sebuah ketulusan.
----------------------------
Hari ini kita sama-sama menyaksikan betapa getaran jiwa mereka terlintas dari asa antara harga diri dan pertarungan nurani. Harga diri akan merasa terinjak-injak manakala hasil dari sebuah perjuangan mereka harus tertulis dengan kata yang sungguh sangat menyedihkan. Pertarungan nurani juga akan bertanya-tanya tentang hal demikian, hingga akhirnya terlintaslah jawaban apakah malu atau penuh kebanggaan. Semuanya tidak mungkin lepas dari bathin mereka.

Teruntuk adik-adik, putra-putri terbaik bangsa yang hasil dari perjuangan kalian mampu mengobati luka, kecewa, dan durhakanya kalian kepada orang tua. Hari ini kalian mampu membuktikan bahwa kalian telah mempersembahkan yang terbaik untuk diri kalian dan semua orang yang kalian anggap ada. Namun, satu hal yang perlu diingat, bahwa meraih kemenangan itu sungguhlah mudah, akan tetapi mempertahankan kemenangan itu sungguh amat sangat melelahkan. Prestasi sangat mudah digapai, namun mempertahankan prestasi tersebut untuk terus menerus menjadi baik, amat sangat membutuhkan sebuah perjuangan besar. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mengotori hasil torehan manis kalian saat ini dengan hal-hal yang tidak ada untungnya sama sekali.

Kepada adik-adik, putri-putri terbaik bangsa yang hasil dari perjuangan kalian harus berakhir dengan kata “maaf”, “kecewa”, “sedih”, dan “sabar”, hari ini kalian mampu mempersembahkan kata-kata yang amat sulit diungkapkan tersebut kepada orang tua kalian, guru-guru kalian, dan orang-orang yang ingin melihat kalian senyum bahagia bersama mereka. Kalian adalah bagian dari sebuah kemenangan yang tertunda, keberhasilan yang harus diperjuangkan lagi, dan butuh sebuah pemahaman berarti untuk menyadari semua yang kalian persembahkan, semua yang kalian usahakan, dan semua yang menjadi harapan kalian adalah perjalanan sejarah untuk menjemput kemenangan yang lebih berharga dan berarti daripada mereka yang dengan sombongnya mengatakan merekalah yang menang.

Kepada semua sekolah yang seratus persen dari putra-putrinya mempersembahkan senyum indah dari pagi hingga berakhirnya sebuah proklamasi kemenangan mereka, melalui tulisan sederhana ini saya berharap jangan sampai kemenangan tersebut menjadi sebuah prestise dari karikatur pembelaan sombong untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya ketika PPDB menjelang. Kemenangan luar biasa ini marilah dijadikan sebagai teladan berharga bahwa sebuah sekolah jika berada di pelosok daerah ini, mampu menandingi luar biasanya sekolah di kota sana, dan yang lebih berat lagi jika sekolah berada di kota, maka ungkapkanlah bahwa sekolah kota mampu memberikan sebuah petuah suci untuk menunjukkan bahwa kemenangan kita adalah bagian dari sebuah perjuangan sejarah yang harus dibenahi.

Yang terhormat kepala sekolah yang siswa-siswinya masih ada yang tidak lulus, maka saatnya kita bertanya dengan mata bathin kita, dosa apakah yang telah dilakukan oleh kita, keburukan apakah yang telah kita torehkan kepada putra-putri kita, dan kebodohan apa yang menjadi belenggu dalam mengangkat citra dan martabat kita. Namun, ini adalah sebuah refleksi real yang harus dijadikan malu untuk kalah, malu untuk tidak berprestasi, dan malu untuk mengulang kesalahan tersebut lagi.

Yang mulia, kepala dinas kabupaten dan kota yang hasil pencapaian peserta UN di daerahnya sempurna 100%, maka jadikanlah bagian dari sebuah penantian panjang tersebut sebagai cerminan sikap mulia untuk terus-menerus berbenah diri, memfasilitasi semua hal yang jangan sampai membuat keburukan di esok hari. Berbenah dengan senyum bahagia meraih kemenangan, bukan meniatkan hal tersebut sebagai sebuah harapan kesombongan.

Yang sangat mulia, kepala dinas kabupaten dan kota yang hasil pencapaian nilai peserta UN di daerahnya masih tidak sempurna, maka sudah saatnyalah bertaubat untuk merenungi bahwa semua ini timbul dari dosa-dosa aneh terhadap diri, sekolah, dan putra-putri daerah di sana. Jangan sampai kegagalan ini menjadi keburukan yang berlarut-larut sehingga mengacuhkan moral dan harga diri yang harus dibayar dengan rugi.

Yang maha luar biasa, penghargaan yang setinggi-tingginya kepada kepala dinas provinsi yang dengan niat hanya meraih kemenangan dan keperkasaan sejati, hari ini harapan tersebut telah terbukti dengan nyata bahwa perjuangan dan  kepercayaan pemerintah daerah kita kepada Anda sudah mengobati luka mendalam pada prestasi tahun-tahun sebelumnya. Mereka yang besar adalah mereka yang terlahir dari budi, bukan niat suci untuk merelakan dan membangga-banggakan prestasi saat ini. Sekali lagi, sebuah apresiasi luar biasa dan mudah-mudahan di jenjang SMP/MTs, SD/MI nanti prestasi kembali terukir lagi.

Sebelum saya akhiri tulisan sederhana ini, sekali lagi marilah kita jadikan pencapaian prestasi kita hari menjadi bias abadi dari mimpi-mimpi indah kita dari tahun-tahun sebelumnya untuk lebih memperbaiki diri sehingga mulai tahun ini prestasi demi prestasi selayaknya terukir dengan sebuah kata “syukur”. Menjadi barometer fakta “jujur”, menjadi asset berharga sehingga prestasi tersebut mampu kita ukur.

Untuk pejuang-pejuang bangsa yang sedang bergembira ria, perjalanan masih panjang dan jangan sampai kemenangan ini menjadikan kalian tertidur lelap dalam kesombongan sehingga melupakan kewajiban berharga untuk mempersembahkan yang terindah bagi pertiwi tercinta. Kalian adalah investasi negerinya para orang-orang baik, jangan sampai terprovokasi dengan orang yang tidak baik. Berpikirlah realistis untuk perjuangan masa depan, karena negeri ini memburu manusia-manusia baik demi terwujudnya sebuah visi, “Menjemput Emas dari Prestasi Generasi Saat Ini.” Oleh karena itu, sembahkanlah sujud syukurmu kepada Tuhan dan jangan sampai lupa bahwa prestasimu hari ini adalah sebuah penghargaan mulia dari Dia yang Maha Memberikan Kebaikan. Semoga sukses…!!!


Tertutuplah sedih karena kebahagiaan itu, terantai sudahlah resah karena kegagalan itu. Namun, semuanya hanya semu dan harus dipertanyakan kembali dari mana keberhasilan dan kekalahan itu…??? Kita pun harus bertanya, kemenangan dan kegagalan hari ini apakah hanya mimpi atau fakta dari sebuah pengakuan kepada Tuhan Yang Maha Luar Biasa itu, bukan kepada mereka yang hanya ingin berlari tanpa tanggungjawab untuk sebuah kemenangan dan keberhasilan…

Opini HARKITNAS 2012

Hari Kebangkitan Nasional 2012:
CERMIN JUJUR UNTUK SEBUAH KELICIKAN

Oleh : Usman Jayadi


Seratus empat tahun yang silam, merupakan puncak bangkitnya generasi bangsa yang peduli nasib negaranya. Kegagalan mereka dalam menghadapi penjajahan yang masih bersifat lokal dan kurang mendapatkan hasil, akhirnya menimbulkan pergerakan yang bersifat nasional. Bentuk perlawanan pun diubah yang semula perlawanan dalam bentuk persenjataan tarung nyawa, diubah menjadi perlawanan organisasi tarung budi.

Dimulai dari R.A. Kartini dan Dewi Sartika dengan sekolah khusus kaum wanitanya, Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswanya, dan Douwes Dekker dengan harian De Express-nya. Tokoh-tokoh tersebutlah yang menginspirasi para pemuda dan pelajar Indonesia untuk mulai berpikir mendirikan organisasi modern. Lahirlah Budi Utomo, Serikat Dagang Islam dan Serikat Islam, Indische Partij, dan Perhimpunan Indonesia dengan tokoh-tokoh hebatnya dan mampu menghimpun para pemuda Indonesia untuk berjuang dengan gigihnya, akhirnya Sumpah Pemuda pun terlahir. Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang untuk pertama kalinya.

Sebuah perjalanan panjang penuh perjuangan yang jarang kita ingat bersama anak cucu kita, dan mungkin untuk saat ini sepertinya sudah tidak terprogram dalam kajian kita. Hal inilah yang mungkin mendorong kaum-kaum intelek bangsa ini mendirikan organisasi dengan tujuan yang semestinya memajukan dan mensejahterakan kehidupan berbangsa, berubah memajukan karir, kepentingan pribadi, saling jatuh-menjatuhkan, dan berbuat sangat licik tanpa bercermin untuk sebuah kejujuran.

Kehidupan kenegaraan yang sarat dengan kepentingan pribadi tersebut dengan gencarnya mampu mengubah tatanan hukum dosa menjadi tabu dengan kelicikan. Tokoh yang seharusnya menjadi inspirasi bagi kaum muda hanya membentuk kaum muda menjadi licik seperti mereka. Organisasi bermunculan di mana-mana dengan tujuan saling menjatuhkan hingga permusuhan, non solidaritas, kehidupan masyarakat amburadul, pribadi antar pribadi saling tawan dengan sekat kepentingan pun terjalin dengan mesranya. Peperangan, pertikaian, kemiskinan, kemelaratan menjadi petarung untuk mewujudkan kepentingan demi kepentingan.

Peperangan diawali dari organisasi, pertikaian tercetus dari sebuah perkumpulan, kemiskinan dijadikan sebagai modal membangun karakter kebodohan di masyarakat yang dengan kemiskinan tersebut mereka mampu membius masyarakat agar menengok perjuangan licik mereka. Akhirnya, kemelaratan pun menjadi sumber inspirasi mereka setiap saat. Dan dengan kemelaratan tersebut mereka mampu menjadikan organisasinya menjadi yang terbaik. Luar biasa memang, padahal kalau kita tengok hal-hal tersebut hanya bayangan yang amat tabu namun luar biasa nyatanya. Inilah berbagai lika-liku mengapa bangsa ini menjadi bangsa yang seharusnya subur makmur menjadi bangsa yang luntur akidah, kotor lidah, dan semrawut moral.

Kebangkitan nasional sewajarnya kita jadikan refleksi menyeluruh, cermin kejujuran niat tulus para pejuang kita dulu, bukan dijadikan hanya tabur bunga kemudian mengheningkan cipta tanpa doa dan memantulkan hasil bayangan busuk kita semua.

Melalui tulisan sederhana ini, kiranya menjadi inspirasi bagi kita semua. Bagi tokoh-tokoh perpolitikan, marilah dengan cerdik politik anda, teladankan jiwa kebaikan kepada masyarakat kita bahwa kejujuran dan kemakmuran adalah kunci dari martabat kita semua. Bagi rekan-rekan mahasiswa hendaknya menyadari betul hakikat dan tujuan organisasi tempat kita memperjuangkan bangsa ini, bukan hanya sebatas reklame kehebatan untuk memakmurkan para provokator dan menghanguskan tekad orang-orang yang memang benar-benar berniat untuk memajukan bangsa dan kita semua. Bagi rekan-rekan seperjuangan yang menjadi bunglon di organisasi pemerintahan, marilah kita syukuri tugas dan jabatan yang diamanahkan Tuhan untuk kita semua, bukan mengotori dan menghinakan kita dengan tekad busuk kita. Bagi rekan-rekan pendidik dan peduli pendidikan, marilah kita belajar dari tokoh kebangkitan pendidikan Negara ini yang dengan pendidikan mereka mampu merubah kehidupan terjajah menjadi lebih baik dari apa yang diharapkan. Dan, untuk kita semua yang tengah hinggap menjadi organisasi kemasyarakatan, marilah kita menjadikan moment Hari Kebangkitan Nasional ini sebagai perenungan panjang kita dalam mencermati baik buruknya siapa yang memang baik dan menjauhi siapa yang memang buruk.


Kita sama-sama berharap, moment ini kita jadikan sebagai langkah strategis dalam menapaki subur dan makmurnya kehidupan kita sehingga dengan persatuan dan kesatuan yang kokoh, maka pasti rahmat Allah selalu bersinar di redupnya kemajuan bangsa ini, selalu menyejukkan tandusnya nurani bangsa ini, dan selalu menjadi hidayah lelapnya akal budi generasi bangsa ini. Semoga bermanfaat… (yd)

Lombok Post, Mei 2012

Tulisan Terinspirasi Kedatangan Presiden SBY ke NTB

SHALAT JUM’ATNYA PAK PRESIDEN:
SAATNYA UMARA’, ULAMA’, DAN UMMAT BERSIMPUH SAMA…!

Andai umara’, ulama’, dan ummat bersimpuh sama,
Andai umara’, ulama’, dan ummat menghadap bersama,
Andai umara’, ulama’, dan ummat tersimpul dalam persembahan khusyu’ kepada Pencipta,
Kemuliaan, kebanggan, kedamaian pun akan terengkuh dengan suasana canda.
Tuhan pasti bangga,
Karena Semua manusia adalah khalifah atas kebijaksanaan-Nya.
Irilah Malaikat, kecut nyalilah iblis, dan bidadari pun tersenyum dengan indahnya.
Allah merahmati, Allah Meridhoi, Allah Melindungi.
Kita semua bahagia…!!!
--------------------------------------------

Suara adzan berkumandang, hujanpun turun dengan sayup menuai keberkahan. Umara’ dengan koko putih merapikan shaf di baris terdepan. Menghadap kiblat bersama ulama’ dan  umara’ yang lain serta rakyat jelata yang selalu sabar menunggu kehadiran senyumnya. Hanya lantunan titik-titik hujan yang terdengar seusai panggilan Tuhan itu dikumandangkan dengan napas kerinduan. Itu pertanda bahwa kehadiran umara’ di tengah umat menjadikan seribu khusyu’ memuja Sang Pencipta.

Andai setiap Jum’at Umara’ itu hadir di tengah umatnya di Tanah Seribu Masjid ini, menghadap Illahi dari rumah Tuhan yang terkecil hingga keseribu rumah Tuhan yang lainnya. Maka keistimewaan terbesar sebelum jabatannya usai akan menjadi inspiring maha luar biasa bagi umara’ yang lainnya. Dekat dengan Allah, dengan dengan ummat.

Jumat hari ini marilah kita jadikan sebagai momentum terindah diantara banyaknya ibadah kita, di mana perasaan kita seakan-akan betul-betul berhari raya. Tidak sesepi jumat biasanya. Wah… masjid tetangga jadi beberapa shaf saja. Luar biasa memang, di Jakarta lapisan masyarakat kecewa karena konser Lady Gaga dibatalkan. Kecewanya diakibatkan busuknya hati yang merindukan syetan itu hadir dalam decak kagum dosa mereka. Di daerah kita, senyum indah masyarakat berduyun-duyun menghiasi rumah Allah dengan datangnya Sang pemimpin ramah senyuman yang  akan menemani mereka menjemput beribu-ribu kebaikan dalam naungan Ridho Tuhan.

Hari ini, anggapan orang yang hanya mementingkan kelicikan nurani generasi kita berubah menjadi kebanggaan luar biasa, tatkala masjid dijadikan tempat untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Semula hanya artis dengan busana mewahnya terkerumuni di lapangan becek oleh mereka yang tidak punya Tuhan. Hari ini kita sama-sama saksikan, betapa luar biasanya para generasi bangsa naik ke masjid dengan shaf-shaf lurus menengok dari atas ke bawah seakan-akan mereka adalah bagian keluarga besar dari Umara’ yang mulia.

Khatib yang luar biasa dengan kekhasan suara dan modelnya. Mampu mengubah tatanan nurani ketidakkhusyu’an menjadi benar-benar khidmat. Semula, khutbah Jumat hanya didengar oleh para calon tanah saja, hari ini kita harus bangga, generasi umat ini penuh dengan perhatian, menyimak dan melengkapi bathinnya dengan gemericik indah seruan kebaikan.

Tidak ada rasa kantuk. Padahal pada hari Jumat kemarin, umat terbius dengan kebanggaan syetan. Hari ini ummat terkagum dengan para pemimpinnya, para pemuka agamanya, para gurunya, dan para petinggi serta orang-orang ‘alim bangsanya. Tidak ada tegur ribut hingga akhir dari khutbah dikumandangkan. Hal ini mengisyaratkan dan kita semua marilah merenungkan, jika saja para Umara’ dan Ulama’ bersatu baik dalam tatanan pemerintahan. Jika saja para Ulama’ dan Umara’ mampu menghadirkan ummat di rumah Allah setiap saat. Jika saja para Ulama’ dan Umara’ memprioritaskan kepentingan spiritualnya ketimbang kepentingan politiknya, maka hari ini Allah SWT menunjukkan bukti besar betapa indahnya masyarakat dalam desakan kepentingan menghadap Tuhan-nya, bukan atas dasar kepentingan perut kosong mereka dari yang halal dan yang haram.

Luar biasa… Jika Bapak Presiden Jumatannya di Masjid Besar, maka Pak Gubernur, Pak Walikota sambangi ummat di masjid-masjid kecil. Tidak ada bedanya bukan??? Karena Pak Presiden dan Pak-Pak di daerah juga dihormati dan disegani. Tidak ada bedanya juga, pasti khatibnya pun orang paling luar biasa di daerah tersebut. Imamnya pun pasti orang keramat dan termulia di masjid itu. Jamaahnya pun pasti akan sesak menunggu umara’nya memedulikan mereka. Pak-Pak yang Mulia akan membuktikan betapa rindunya mereka disenyumi umara’nya, terlebih disalami kemudian mencium tangan pembesarnya. Bukankah nama baik dan kemuliaan yang membuat orang didoakan oleh sesamanya???

Khutbah usai dikumandangkan, saatnya benar-benar menghadap dimulai dengan gema kebesaran. Ayat-ayat suci dengan khusyu’nya terdengar dari sang Imam. Imam yang akan membawa para Umara’ menuju Tuhan Yang Maha Kuasa. Meskipun panjang, namun terasa begitu nikmatnya. Berdiri sama tinggi, ruku’ sama-sama membungkuk, I’tidal sama-sama menyerah, Sujud sama-sama hina, duduk di antara dua sujud sama-sama introspeksi, sujud lagi sama-sama terhina, salam sama-sama menengok kebaikan dan keburukan. Subhanallah…

Akhirnya, detik pertemuan dengannya harus berakhir dengan lambaian tangan. Riuh suara para siswa-siswi dan rakyat kecil melantunkan kalimat kerinduan. Tidak ada jargon-jargon aneh untuk membedakan mereka dengan orang besar. “Kalau tidak ada saya, maka tidak ada kebanggaan besar untukmu yang mulia.” Mungkin kalimat itulah yang terlahir dari nurani mereka. Tidak dikenal namun disuguhkan senyuman.

Bapak kebanggaan itu pun beranjak pergi, rintihan suara ummatnya seakan-akan bersedih. Itulah pertanda bahwa ummat selalu merindukan pemimpin bangsanya, ummat selalu mendoakan umara’nya, ummat selalu menanti kehadiran orang termulia di mimpinya. Harapannya sudah terkabul, tinggal menunggu Jumat berikutnya, apakah sesak jamaah kembali membanjiri rumah Allah yang besar, apakah khusyu’ tanpa kantuk terlihat ketika khutbah dikumandangkan, dan apakah persembahan dalam shalat akan terjalin khusyu’??? mudah-mudahan selalu dalam naungan keridhaan, bukan karena ada pemimpin di tengah ibadah kita.

Inilah daerah indah dari percikan syurga yang seharusnya aman. Inilah daerahnya para ulama’ dan seribu rumah Tuhan. Inilah daerah para pemimpi terwujudnya negeri yang toyyibatun, rabbun, ghofuur… jangan sampai ternoda dengan busuknya caci maki, jangan sampai terdosa dengan tinggi hati, jangan sampai terprovokasi dengan manusia yang mencurangi harga diri.

Hal menarik yang layak untuk kita tengok dan menjadi investasi masa depan bangsa, membumikan cinta kepada pemimpin adalah budaya untuk mengenal Tuhan. Pemimpin harus meberikan kabar indah kepada ummatnya, bahwa menaati pemimpin adalah kewajiban. Berdosa jika tidak dilakukan. Namun, harus disadari juga, bahwa kesempurnaan mimpi para pemimpin bangsa akan diridhoi manakala kewajibannya menengok nasib ummat selalu ada dalam harapannya. Mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi semua pemimpin ummat dan ulama.’

Lombok Post, Mei 2012